google918a0c52108bf1a3.html Lanang Pening: TERORIS TAK SEGAN LAGI MEMBOM MASJID

16 Apr 2011

TERORIS TAK SEGAN LAGI MEMBOM MASJID

Peristiwa ledakan di Masjid di Cirebon pernah dikisahkan pada zaman Sunan Gunungjati, yaitu saat tujuh orang melakukan azan bersamaan di Masjid Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan.

Begitu bunyi penggalan terakhir suara azan, sang raja jin yang bernama Megananda terlontar dari atas Memolo Masjid disertai suara gelegar membahana.

Tetapi ledakan bom bunuh diri yang mengejutkan, Jumat (15/4) siang di Masjid Al-Dzikro Mapolresta Cirebon bukanlah upaya mengusir jin seperti masa Sunan Gunung Jati, walaupun ledakan itu jug aterjadi persis saat Imam Shalat Jumat mengumandangkan Allahhu Akbar sebagai tanda takbiratul ihram.

Ledakan itu menyebabkan 28 orang menderita luka-luka termasuk Kapolres Cirebon AKPB Herukoco dan sejumlah perwiranya yang seperti baiasa shalat Jumat di masjid itu.

Ledakan itu mempunyai arti bermacam-macam tafsiran karena sampai saat ini polisi masih belum bisa mengungkap pesan sang pengebom bunuh diri.Namun dari cara pelaku yang berusaha mendekatkan diri ke Kapolresta Cirebon sebelum menekan pemicu bom menjelang mulainya shalat memberikan pesan bahwa pelaku dan jaringannya telah menyatakan perang dengan Polri.

Apalagi kesuksesan Polri yang mengungkap berbagai jaringan teroris membuat sel-sel yang lain berusaha mencari bentuk perlawanan baru, setelah sebelumnya melakukan serangan bom buku dan serangan langsung ke markas polisi yang lengah dalam penjagaan seperti terjadi di Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Pola Baru
Ledakan bunuh diri dalam jamaah shalat di Cirebon menandai pola baru yang tidak lagi mengindahkan kesucian masjid dan kesucian ibadah umat Islam sehingga wajar serangan itu telah menuai protes dari sejumlah tokoh Islam.

Ketua GP Anshor Nusron Wahid mengatakan, perbuatan pelaku itu merupakan tindakan keji dan pengecut.

"Pemerintah harus bisa mengungkap aktor intelektual karena umat Islam juga terluka dengan serangan di dalam masjid ini apalagi terjadi saat tengah beribadah," katanya.

Pesan mereka jelas menantang untuk perang, karena mereka sengaja mempermalukan keamanan di Indonesia dengan menyerang kantor kepolisian.
"Kantor polisi saja bisa diserang maka bagaimana dengan tempat umum lainnya," katanya.

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, pelaku peledakan bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon adalah teroris lama yang mulai berani menyerang secara terbuka.

"Pelaku teror itu masih aktor lama. Sekarang mereka sudah berani terang-terangan, mereka menyerang secara terbuka," kata Hasyim di Jakarta, Jumat.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Malang dan Depok itu, bom bunuh diri di masjid membuktikan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam. Mereka juga menjadikan simbol Islam sebagai target teror.

"Ini bukti yang tak terbantahkan bahwa terorisme tak identik dengan Islam dan ajaran Islam, karena mereka juga menghancurkan masjid dan aparat," katanya.

Ahmad Yani, anggota DPR dari PPP mengatakan, selain mengganggu stabilitas bangsa, bom itu juga bisa memancing tindakan provokasi dan adu domba anak bangsa. "Saya minta umat Islam tidak terpancing," katanya.

Anggota Komisi III itu juga meminta Kapolri secepatnya mengungkap kasus itu, jangan sampai jaringan kelompok itu kembali berbuat ulah menteror bangsa ini.
"Kasus bom buku saja belum bisa dituntaskan, kemudian muncul bom bunuh diri di tempat suci umat Islam. Kalau juga tidak bisa tuntas. Ini menjadi cacatan kami bagi kinerja Kapolri," katanya.

Ketua Badan Penanggulangan Teror Komjen Pol Arsyad Mbei mengatakan pelaku pengemboman Masjid Ad Dzikra memiliki hubungan dengan jaringan pelaku bom buku, namun ia belum mau terburu-buru menunjuk salah satu kelompok itu.

Ia mengungkapkan, pengeboman masjid bukanlah hal baru di Indonesia, karena pernah terjadi di Masjid Istiqlal tahun 1998 dan tahun 2000 di Masjid Agung Yogyakarta.


Kantongi Nama Pelaku
Sementara Ketua Komunitas Intejen daerah (Kominda Jawa Barat) Dede Yusuf mengatakan, sudah mengantongi nama-nama pelaku yang mempunyai kaitan dengan bom bunuh diri itu.

"Ini merupakan pemain-pemain lama yang targetnya adalah penyerang sistem keamanan negara. Mereka ingin membuktikan bisa menembus keamanan negara," katanya.

Cirebon memang sudah menjadi daerah persembunyian sel-sel jaringan teroris terbukti dengan tertangkapnya beberapa pelaku di sebuah hotel di Cirebon tahun 2003, bahkan ada pelaku bom bunuh diri di Jimabaran Bali 2005 yang berasal dari Majalengka yaitu Salik Firdaus (25).

Lima paket bom yang ternyata ikut dibawa dua tersangka pelaku pengeboman hotel JW Marriott yang ditangkap di Kota Cirebon, Rabu subuh 29 Oktober 2003, diduga kuat akan diledakkan di sejumlah pusat perbelanjaan dan hotel berbintang di Kota Cirebon.

Kemudian Iwan, warga Cibingbin, Kuningan, yang diduga kurir dana teroris kepada jaringan Noordin M Top di Indonesia ditangkap Densus 88 tanggal 16 Agustus 2009.

Sultan Kasepuhan Pangeran Raja Arief Natadiningrat mengungkapkan sudah jauh hari mengingatkan bahaya ancaman bom di Cirebon karena pada Jumat 26 Februari 2010 ditemukan bungkusan plastik "kresek" di dekat krapyak tempat sholat Sultan Sepuh di Masjid Agung Keraton Kasepuhan ternyata setelah dibuka Tim Gegana merupakan bom rakitan.

Oleh karena itu, menurut Sultan, pada tanggal 20 Desember 2010 dirinya mengirim surat yang mempertanyakan penyidikan bom tersebut dan juga memperingatkan adanya ancaman bom di Kota Cirebon.

Ia mengatakan, Kapolres Cirebon pada 14 Januari 2011 menjawab surat sultan dengan mengatakan bahwa bungkusan plastik itu berisi antara lain sebuah tiner, lima puluh butir petasan seukuran ibu jari yang disimpan di sebelah utara Mesjid Agung Kasepuhan.

Pada butir 2.c surat Kapolresta itu juga menjelaskan bahwa asal usul bahan peledak itu masih belum jelas sehubungan pelakunya belum ditemukan.

Ia menegaskan, aksi bom bunuh diri yang dilakukan ini mempunyai pesan bahwa mereka ingin membuktikan diri mampu melakukan perlawanan terhadap pemerintahan saat ini dengan menyerang langsung simbol keamanan negara.

"Ini membuktikan masih banyak teroris yang bersembunyi di kampung-kampung, dan tanggungjawab masyarakat juga untuk ikut memantau lingkungannya agar tidak disusupi pelaku terorisme," kata mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Jawa Barat itu. (Ant)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT MUSRIADI (LANANG PENING)