google918a0c52108bf1a3.html Lanang Pening: APRESIASI RUPIAH MENGKHAWATIRKAN ATAU HARUS DISYUKURI

16 Apr 2011

APRESIASI RUPIAH MENGKHAWATIRKAN ATAU HARUS DISYUKURI

Jakarta, 16/4 (ANTARA) - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan penguatan signifikan bahkan ada yang memperkirakan dapat mencapai hingga Rp8.500 per dolar AS.

APBN 2011 menetapkan asumsi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp9.250 per dolar, namun saat ini posisi Rupiah berada pada kisaran Rp8.600 per dolar AS.

Para pengusaha yang memiliki usaha berbasis ekspor sebenarnya merasa nyaman dengan nilai tukar di level Rp9.000 per dolar AS atau lebih tinggi dari itu.

Nilai tukar tersebut diperhitungkan mampu menekan beban pembayaran utang perusahaan sekaligus menahan laju penurunan pendapatan perusahaan yang menipis akibat penguatan nilai tukar yang terjadi.

"Kalau Rupiah terlalu kuat, pasti berdampak pada ekspor. Perlu dipikirkan sampai tahap apa Rupiah itu tidak memberatkan ekspor kita. Kami sangat berharap, Rupiah tidak sampai di bawah Rp9.000 per dolar AS," kata Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulisto.Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, nilai tukar Rupiah terus menguat sejak 3 Januari 2011 ketika di posisi Rp8.931 per dolar AS (kurs jual) Rp9.021 per dolar AS (kurs beli) menjadi sekitar Rp8.600 per dolar AS akhir-akhir ini. Itu berarti terjadi apresiasi nilai tukar rupiah antara 3,57 hingga 3,58 persen.

Pemerintah sempat mengkhawatirkan penguatan nilai tukar Rupiah yang cukup kuat karena kemungkinan akan berdampak pada neraca perdagangan Indonesia.

Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro mengharapkan penguatan rupiah tidak mengganggu neraca perdagangan.

"Untuk itu, kita apresiasi dulu sampai batas mana kita cukup aman dan penguatan tidak mengganggu 'trade balance'," katanya.

Namun berdasarkan monitoring yang dilakukan, Bambang menyebutkan bahwa penguatan Rupiah hingga mencapai level Rp8.600 per dolar AS belum mempengaruhi ekspor secara keseluruhan.
"Pengamatan sejak tahun lalu menunjukkan bahwa meski rupiah terus terapresiasi, namun ekspor tetap tumbuh," kata Bambang Brodjonegoro.

Menurut dia, ekspor Indonesia masih belum mengkhawatirkan karena barang ekspor dari Indonesia juga memiliki konten impor yang besar.

"Penguatan rupiah ini belum menjadi masalah karena kalau kami cek dengan pola ekspor kita. Barang ekspor kita juga masih punya konten impor yang besar yaitu sekitar 30 persen sehingga otomatis penguatan akan mengurangi biaya input dari impor," ujarnya.

Selain itu kebanyakan ekspor Indonesia dilakukan menuju negara-negara yang nilai kurs mata uangnya juga menguat terhadap dolar AS.

"Kalau kita melakukan ekspor atau perdagangan lebih banyak dengan negara lain yang mata uangnya menguat terhadap dolar, daya saing kita dalam konteks kurs dolar tidak akan berpengaruh terlalu banyak," ujarnya.

Dengan penguatan ini ada kemungkinan pemerintah akan mengubah asumsi rupiah dalam APBN dari sebelumnya Rp9.250 menjadi Rp9.000.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS (apresiasi) dalam beberapa waktu terakhir tidak menurunkan volume ekspor Indonesia.

"Selama Maret-awal April masih ada penguatan Rupiah namun ekspor masih kuat," kata Kepala BPS, Rusman Heriawan.

Ia mengakui ada kekhawatiran bahwa penguatan nilai tukar Rupiah akan berdampak pada penurunan volume ekspor Indonesia, namun kekhawatiran itu tidak terjadi karena produk-produk ekspor Indonesia sebagian besar adalah barang-barang "inelastis".

"Produk yang diekspor sebagian besar barang-barang kebutuhan dasar seperti barang tambang, minyak sawit mentah (CPO) dan lainnya," katanya.

Sementara itu dari sisi impor, menurut Rusman, penguatan nilai tukar memberi dampak "import deflation". Saat ini industri sedang menikmati kenyamanan karena harga impor yang terkendali karena penguatan Rupiah.

Mengenai keuntungan dari penguatan nilai tukar Rupiah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan penguatan rupiah hingga mencapai level Rp8.600 per dolar AS akan mengurangi beban pemerintah dalam membayar bunga utang.

"Penguatan rupiah kita itu akan mengurangi beban bunga kita dan beban ekonomi yang lain," katanya.

Penguatan rupiah tersebut merupakan indikasi bahwa perekonomian nasional membaik dan menunjukkan indikator makro dalam kondisi bagus.

Hatta juga mengatakan apresiasi tersebut tidak mengganggu ekspor secara keseluruhan, karena negara tujuan ekspor juga mengalami penguatan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS.

Senada dengan Hatta, Direktur Currency Management Board, Farial Anwar menyatakan kenaikan rupiah yang cukup besar membantu menekan anggaran subsidi bahan bakar minyak sehingga defisit anggaran tidak terlalu besar.

"Karena itu masuknya dana asing dari berbagai kawasan baik dari Eropa maupun Amerika Serikat harus dimanfaatkan semaksimal mungkin," katanya.

Farial Anwar mengatakan, investor asing saat ini tidak ada pilihan untuk menempatkan dananya di kawasan lain selain di Asia, karena di kawasan Asia ini ekonomi tumbuh pesat. Bahkan kawasan Asia dinilai saat ini sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dunia yang semula di kawasan Eropa dan Amerika Serikat.

BI juga menilai apresiasi Rupiah sejauh ini belum mempengaruhi daya saing Indonesia dari sisi nilai tukar, antara lain tercermin dari kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan relatif tinggi.

BI bahkan memandang bahwa penguatan nilai tukar Rupiah sejauh ini dapat menurunkan tekanan inflasi, khususnya yang berasal dari kenaikan harga komoditas internasional atau "imported inflation".

Sementara itu Gubernur BI, Darmin Nasution mengatakan tren penguatan nilai tukar Rupiah terus berlanjut pada Maret 2011, di samping sejalan dengan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mencatat surplus besar dan positifnya persepsi investor asing terhadap kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.

"Penguatan Rupiah juga sebagai bagian dari respons kebijakan BI untuk pengendalian tekanan inflasi, khususnya yang berasal dari kenaikan harga komoditas internasional atau 'imported inflation'," katanya.

Ia mengatakan, kinerja NPI diperkirakan masih akan mencatat surplus yang cukup besar pada 2011, baik dari transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial. Ekspor diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi.

Aliran masuk modal asing dalam bentuk portofolio diperkirakan masih akan tetap besar, sedangkan investasi asing langsung (PMA) diperkirakan meningkat. Dengan perkembangan sampai dengan akhir Maret 2011, cadangan devisa tercatat 105,7 miliar dolar AS atau setara dengan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.

Menurut Darmin, arus modal masuk (capital inflow) yang terus masuk ke pasar Indonesia menyebabkan penguatan nilai tukar Rupiah menjadi yang tercepat di antara negara berkembang.

"Kondisi tersebut memberikan potensi pembalikan modal (sudden reversal) terbuka sehingga perlu ada kebijakan yang bisa menjaga makro ekonomi berjalan dengan baik," katanya.

Ia juga mengatakan penguatan Rupiah masih akan terus terjadi dan BI akan menjaga Rupiah dan tidak membiarkan penguatan (apresiasi) rupiah bergerak lebih jauh serta menekan ekspor dan impor.

"Memang kecepatannya perlu diperhatikan juga karena kita selalu mengikuti itu, jangan pernah mengira kami membiarkan begitu saja, tapi kami tidak punya target mati. Jadi arah penguatan Rupiah masih ada walaupun kita jaga jangan terlalu cepat dan jangan kemudian volatilitasnya terlalu jauh," kata Darmin Nasution.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT MUSRIADI (LANANG PENING)